Biografi Soepomo “Pencetus dan Arsitek UUD 1945”


Biografi Soepomo “Pencetus dan Arsitek UUD 1945” Tokoh Pahlawan Nasional

    Profil Soepomo    

Nama Lengkap : Soepomo
Tanggal Lahir : 22 Januari 1903
Tempat Lahir : Sukoharjo, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Zodiac : Aquarius
Meninggal : Jakarta, 12 September 1958 (umur 55)
Makam : Pemakaman keluarga di kampung Yosoroto, Sala
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam


    Profil Soepomo    

Pahlawan nasional yang merupakan pencetus sekaligus arsitek UUD 1945 ini dikenal dengan nama Prof. Mr. Soepomo. Ia adalah seorang ahli hukum pada generasi pertama yang sudah ada ketika Indonesia merdeka. Dalam biografi Soepomo, semasa hidupnya hingga akhir hayatnya ia juga berturut serta berperan dalam pembentukan adanya sistem nasional. Nama Soepomo sering terdengar saat menempuh pendidikan di sekolah dasar maupun menengah. Berikut akan diulas kembali sejarah dari beliau, agar anda bisa mengetahui secara jelas dan mengingat kembali perjalanan hidup Soepomo saat memerdekakan Indonesia. 

Prof. Mr. Soepomo lahir di kota Sukoharjo, Jawa Tengah pada tanggal 22 Januari 1903. Dalam biorafi soepomo disebutkan bahwa ia terlahir dari kalangan keluarga ningrat aristocrat jawa. Kakek dari pihak ibunya adalah Raden Tumenggung Wirjodirodjo, bupati Nayak dari Sragen. Sedangkan Kakek dari pihak ayahnya adalah raden Tumenggung Reksowardono, bupati Anom Sukaharjo pada masa kejayaannya dulu. Pada tahun 1917 pahlawan Soepomo beruntung memiliki keluarga dari keluarga priyayi, sehingga ia memiliki kesempatan untuk bisa menjajaki pendidikan di ELS yaitu sekolah yang setingkat dengan sekolah dasar di daerah Boyolali. Kemudian di tahun 1920 Soepomo melanjutkan pendidikannya di MULO di kota Solo. Setelah itu meneruskan pendidikan hukumnya di Bataviasche Rechtsschool di Batavia dan lulus pada tahun 1923. Kemudian ia ditunjuk oleh kolonial Belanda sebagai pegawai negeri pemerintahannya yang di bantu oleh ketua dari pengadilan negeri Sragen tahun 1977. Kemudian di antara tahun 1924 hingga 1927, beliau mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studinya ke Rijksuniversiteit Leiden di Belanda yang dibimbing oleh Cornelis van Vollenhoven. Ia adalah seorang professor hukum arsitek yang dikenal sebagai tokoh ilmu hukum adat Indonesia dan seorang ahli hukum di bidang hukum internasional, yaitu salah satu konseptor Liga Bangsa Indonesia.    
Pada tahun 1927 dalam biografi Soepomo juga dijelaskan bahwa ia pernah menyandang gelar sebagai doctor dengan judul disertasinya yaitu Reorganisatie van het Agrarisch Stelsel in het Gewest Soerakarta (Reorganisasi Sistem Agraria di Wilayah Surakarta). Dalam disertasinya, Soepomo bukan hanya mengupas adanya sistem agraria tradisional saja akan tetapi juga meneliti hukum-hukum kolonial yang terkait dengan pertahanan di daerah Surakarta. Dengan menggunakan bahasa belanda yang ditulis secara halus dan tidak langsung dan menggunakan argument kolonialnya, kritik Soepomo atas wacana-wacana kolonial yaitu tentang proses transisi agrarian di letakkan dalam disertasinya tersebut. 
Pada buku biografi soepomo tentang bahasa belanda yang terkait dengan krtikan-kritikan tersebut yang pada dasarnya saat menyatakan kritikan kolonialnya, Soepomo meletakkan etika jawanya saat melakukan penulisan subjeytivitas pada argumentnya tersebut. Ini bisa dilihat di buku Frans Magnis-Suseno tentang etika jawa dan buku Ben Anderson tentang Language and Power, sebagai patokan tentang etika jawa untuk memahami strategi dan cara pandang agensi Soepomo. 
Hampir tidak ditemukan di biografi Soepomo, kecuali satu karangan Soegito (1977) yang menyatakan bahwa berdasarkan departemen pendidikan dan kebudayaan, Marsilam Simanjutak mengatakan bahwa Soepomo adalah sumber munculnya fasisme di Negara Indonesia karena adanya kekaguman Soepomo terhadap sistem pemerintahan jepang dan jerman. Simanjuntak menilai bahwa Negara orde baru pada jendral Soeharto adalah bentuk Negara yang sistem pemerintahannya paling dekat dengan Soepomo. Akan tetapi ini perlu di pertimbangkan dan diperdebatkan lagi. Soepomo meninggal di usia muda akibat sakit serangan jantung yang dideritanya. Ia meninggal pada tanggal 12 September 1959 di Jakarta dan dimakamkan di daerah Solo. Semoga informasi di atas dapat memberikan gambaran serta wacana bagi pembaca.

    Pendidikan Soepomo    

  • ELS (Europeesche Lagere School) di Boyolali (1917)
  • MULO (Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs) di Solo (1920)
  • Bataviasche Rechtsschool di Batavia (lulus tahun 1923)
  • Rijksuniversiteit Leiden/Leiden University (1924)

    Karir Soepomo    

  • Pegawai yang diperbantukan pada Pengadilan Negeri Yogyakarta
  • Anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)
  • Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
  • Ketua Panitia Kecil Perancang UUD
  • Menteri Kehakiman
  • Rektor Universitas Indonesia (1951-1954)

    Penghargaan Soepomo    

  • Gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional (1965)

Biografi Pattimura “Sang Pahlawan dari Seram Selatan”


Biografi Pattimura “Sang Pahlawan dari Seram Selatan” Tokoh Pahlawan Nasional

    Profil Pattimura    

Nama : Kapitan Pattimura
Lahir :  Minggu 8 Juni 1783, Haria, pulau Saparua, Maluku
Meninggal : 16 Desember 1817, Ambon, Maluku
Ayah : Frans Matulesi
Ibu : Fransina Silahoi.
Zodiac : Gemini
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam


    Biografi Pattimura    

Pastilah semua orang sudah pernah melihat uang kertas nominal 1000 rupiah bukan? Dalam uang kertas tersebut terdapat gambar seorang pahlawan Indonesia yang gugur hanya demi memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Seorang pahlawan yang membawa sebilah pedang yang ia taruh di dadanya. Pahlawan yang sangat gagah dan terlihat tegas itu dikenal dengan Pattimura. Mungkin, namanya sudah sering disebut di pelajaran sejarah. Namun, tak ada salahnya jika mengulas kembali tentang biografi pattimura agar anda bisa mengetahui pahlawan asal daerah Maluku ini lebih dalam. Simak informasi perjalanan hidup Pahlawan Maluku ini selengkapnya. 
Pahlawan yang gambarnya terpajang di uang kertas seribu rupiah tersebut memiliki nama lengkap Thomas Matulessy. Ia lahir di Maluku, tepatnya di daerah Hualoy, Seram Selatan pada tanggal 8 Juni 1783. Konon katanya, dalam buku biografi pattimura yang ditulis oleh M. Sapija dituliskan bahwa pahlawan dari Maluku ini merupakan keturunan dari bangsawan. Gelar bangsawan tersebut didapatkannya dari ayah Pattimura yang bernama Antoni Mattulessi. Sedangkan ayahnya mendapatkan gelar dari kakeknya yang bernama Raja Sahulau. Putra dari pasangan Frans Matulesi dan Fransina Silahoi ini meninggal dunia pada usia yang terbilang masih muda, 34 tahun, tepatnya pada tanggal 16 Desember 1817.
Mungkin, sebagian dari Anda bertanya-tanya dari mana asal kata “Kapitan” yang selalu disebut ketika anda memanggil nama pahlawan dari Maluku tersebut. Dalam buku biografi Pattimura versi pertama dituliskan bahwa Kapitan adalah gelar yang diperoleh pahlawan dari seram Selatan tersebut. Padahal, dalam faktanya kata “Kapitan” diperoleh dari dalam dirinya sendiri. Orang Maluku percaya bahwa dalam diri Thomas Mattulessy tersebut terpancar aura kepemimpinan yang sifatnya turun temurun. Kharisma itulah yang membuat gelar Kapitan menempel pada dirinya. Hingga sampai sekarang sudah berabad-abad kata “Kapitan” masih selalu disebut saat menyebutkan nama Pattimura. 
Dalam buku biografi pattimura juga disebutkan, pada tahun 1816, Inggris menyerahkan Maluku kepada Belanda dan hal tersebut membuat kondisi social, ekonomi, dan politik Maluku semakin tidak karuan. Kondisi tersebut disebabkan oleh monopoli politik yang dilakukan oleh Belanda. Akhirnya, karena tak tahan dengan kesewenang-wenangan pemerintahan Belanda, rakyat Maluku mencoba melakukan perlawanan. Dari situlah nama Kapitan Pattimura mulai berkibar karena ia adalah pemimpin perang di Maluku. Di bawah pimpinan Kapitan tersebut, rakyat Maluku banyak mendapatkan kemenangan, salah satunya mereka berhasil merebut benteng Duurstede. 
Namun ternyata, ada juga orang yang tak suka dengan Pattimura. Hal itu terbukti dengan adanya pengkhianatan yang dilakukan oleh Raja Booi. Salah satu raja Maluku tersebut membeberkan semua strategi Pattimura kepada Belanda. Ditambah lagi, Belanda yang licik mencoba menggunakan adu domba sebagai taktik untuk menghancurkan pemimpin rakyat Maluku tersebut. Akhirnya, pada tanggal 11 November 1817, Pattimura berhasil ditangkap oleh belanda dan Benteng Durstede kembali ke pelukan Belanda. Tak puas hanya menangkap Pahlawan Maluku saja, Belanda juga memberikan sanksi sadis kepada Putra kebanggaan Maluku dengan cara menggantungnya di depan benteng New Victroria Ambon. Berkat perjuangannya membela kemerdekaan, pada tahun 1973, pemerintah RI kemudian memberikan gelar pahlawan Nasional pada Pattimura. Semoga informasi tentang Biografi Pattimura di atas bermanfaat bagi para pembaca. 

    Penghargaan Pattimura    

  • Gelar Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia 1973

Biografi T.B. Simatupang “ Pahlawan Militer Dari Sumatera Utara”

Biografi T.B. Simatupang Pahlawan Nasional

    Profil T.B. Simatupang    

Nama : Tahi Bonar Simatupang
Lahir :  Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920
Meninggal : Jakarta, 1 Januari 1990 (umur 69 tahun)
Agama : Kristen
Kebangsaan : Indonesia
Pasangan : Sumarti Budiardjo
Nama Ayah : Simon Mangaraja Soaduan Simatupang
Nama Ibu : Mina Boru Sibutar
Anak 4 :  Tigor, Toga, Siadji, dan Ida Apulia

    Biografi T.B. Simatupang    

Bagi kaum awam maupun terpelajar nama dari T.B. Simatupang hanya dikenal dan diidentikan sebagai nama dari sebuah jalan yang ada di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Seorang pahlawan militer yang memiliki strategi yang bagus dalam melawan penjajah. Akan tetapi nama tersebut jarang terdengar dan paling cuma dijumpai saat melewati kota tersebut dan mempelajari pelajaran sejarah di sekolah. Namun, tidak ada salahnya jika mengulas dan mengenal kembali tentang biografi T.B. Simatung sosok pahlawan militer dari Sumatera Utara. Agar anda dapat mengetahui secara gamblang tentang perjalanan dan tokoh pahlawan militer dari Sumatera Utara ini. 
Seorang pahlawan militer yang namanya telah diidentikan sebagai nama jalan di daerah Jakarta Selatan ini memiliki nama lengkap Tahi Bonar Simatupang atau lebih dikenal sebagai T.B. Simatupang. Ia lahir pada tanggal 28 Januari tahun 1920 di Sidikalang, Sumatera Utara dan meninggal di usia 69 tahun di Jakarta pada tanggal 1 Januari 1990. Ia adalah anak ke dua dari tujuh bersaudara. Dalam biografi T.B. Simatupang disebutkan bahwa ia lahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama Simon Mangaraja Soaduan Simatupang, beliau bekerja sebagai seorang pegawai tukang pos. Pahlawan Simatupang ini menempuh sekolah pendidikannya di HIS Pematangsiantar, ia lulus pada tahun 1934. Lalu melanjutkan pendidikannya di MULO Tarutung tahun 1937, kemudian di AMS Jakarta dan lulus pada tahun 1940. Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah, T.B. Simatupang mendaftarkan diri di pendidikan kemiliteran dan di terima di KMA (koninklije militaire academie) di bandung hingga tahun 1942.
Setelah menyelesaikan studi kemiliterannya, dalam biografi T.B. Simatupang, ia adalah seorang ahli militer yang memiliki startegi perang dan menjadi seorang diplomat yang sangat ulung. Perjalanan T.B. Simatupang dalam melawan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ia diangkat sebagai wakil staf angkatan perang RI pada tahun 1958-1949 dan menjabat sebagai kepala staf angkatan RI pada tahun 1950-1954 diusianya yang masih muda. Tahun 1954-1959 Simatupang diangkat sebagai penasehat militer di bagian Departemen Pertahan RI. Karena memiliki perbedaan prinsip dengan presiden Soekarno, kemudian ia mengunduran diri dengan memiliki pangkat sebagai letnan jendral dari dinas aktif saat kemiliterannya.
Setelah selesai dan tidak aktif dalam hal kemiliteran Negara RI, ia mengisi hari-harinya dengan melakukan kegiatan di sebuah gereja. Banyak sumbangan yang ia berikan kepada umat Kristen tentang pengembangan landasan etik teologi untuk dijadikan dasar tanggung jawab kepada bangsa dan masyarakat Indonesia. Keterlibatan ia di sebuah organisasi maupun lembaga dari kalangan Kristen, kemudian ia dijuluki sebagai “ Teoretikus Oikumenis” pertama yang lahir dari kalangan gereja Indonesia setelah kemerdekaan RI. Dalam biografi T.B. Simatupang ia juga dikenal sebagai tokoh yang memberikan banyak sumbangan bagi pekabaran injil di Batak, khususnya pada zaman Dr. Ingwer Ludwig Nommensen.
Sejak kecil T.B. Simatupang adalah seorang yang ahli dalam membaca dan menulis. Dalam biografinya menyebutkan bahwa ada 3 karl yang telah mempengaruhi pikiran dan hidupnya. 3 karl tersebut adalah Karl Von Clausewitz, seorang tokoh ahli dalam strategi kemiliteran, Karl Barth dan Karl Marx, seorang teologi protestan terkemuka pada abad ke-20. Semua yang mencangkup kehidupan dari Simatupang mencerminkan peranan dari 3 karl tersebut. Di lingkungan masyarakat, T.B. simatupang pernah menjabat sebagai ketua yayasan di UKI dan ketua yayasan di IPPM. Ia juga merupakan salah satu pencetus dari lembaga ini, ketika banyak orang yang belum memikirkannya. T.B. Simatupang percaya bahwa Negara Indonesia memerlukan pemimpin-pemimpin yang mempunyai dan menguasai ilmu-ilmu managemen baik itu di bagian perusahaan maupun di sekitar masyarakat. Semoga biografi T.B. Simatupang di atas dapat memberikan wacana dan manfaat bagi para pembaca.

    Karya tulis T.B. Simatupang    

  • Soal-soal Politik Militer di Indonesia (1956)
  • Laporan dari Banaran: Kisah Pengalaman Seorang Prajurit selama Perang Kemerdekaan (1960)
  • Pemerintah, Masjarakat, Angkatan Perang: Pidato-pidato dan karangan-karangan 1955-1958 (1960)
  • Tugas Kristen dalam Revolusi (1967)
  • Capita Selecta Masalah Hankam (1967)
  • Pengetahuan Militer Umum (1968)
  • Pengantar Ilmu Perang di Indonesia (1969)
  • Diskusi Tjibulan II: Dukungan dan Pengawasan Masjarakat dalam Pembangunan, 9-11 Djanuari 1970 (disusun bersama oleh Anwar Harjono, H. Rosihan Anwar, T.B. Simatupang) (1970)
  • Kejakinan dan Perdjuangan: Buku Kenangan untuk Letnan Djenderal Dr. T.B. Simatupang (1972)
  • Keselamatan Masakini [disusun oleh T.B. Simatupang, bersama S.A.E. Nababan dan Fridolin Ukur (1973)
  • Buku Persiapan Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia, 1975 (1974)
  • Ketahanan Nasional dalam Situasi Baru di Asia Tenggara: Ceramah pada tanggal 30 Juni 1975 di Gedung Kebangkitan Nasional, Jakarta (1975)
  • Ceramah Letnan Jenderal TNI (Purn) Dr. T.B. Simatupang di AKABRI Bagian Darat, tanggal 4 November 1981 [microform] (1981)
  • Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai (1981)
  • Arti Sejarah Perjuangan Kemerdekaan: Ceramah tanggal, 14 Oktober 1980 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta (1981)
  • Iman Kristen dan Pancasila (1984)
  • Harapan, Keprihatinan dan Tekad: Angkatan 45 Merampungkan Tugas Sejarahnya (1985)
  • Kehadiran Kristen dalam Perang, Revolusi dan Pengembangan: Berjuang Mengamalkan Pancasila dalam Terang Iman (1986)
  • Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang (penyunting: H.M. Victor Matondang) (1986)
  • Peranan Angkatan Perang dalam Negara Pancasila yang Membangun (1980)
  • Peranan Agama-agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Negara Pancasila yang Membangun (1987)
  • Dari Revolusi ke Pembangunan (1987)
  • 70 tahun Dr. T.B. Simatupang: Saya adalah Orang yang Berhutang [penyunting: Samuel Pardede] (1990)
  • Penghayatan Kesatuan Bangsa dalam rangka Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila Menuju Tinggal Landas (1990)
  • Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos: Menelusuri Makna Pengalaman Seorang Prajurit Generasi Pembebas bagi Masa Depan Masyarakat, Bangsa, dan Negara (1991)

    Penghargaan T.B Simatupang    

  • Pahlawan Nasional 

Biografi Agus Salim "Sang Diplomat Yang Religius Dan Patriotik"


Agus Salim Tokoh Pahlawan Nasional

    Profil Agus Salim    

Nama Lengkap : Agus Salim
Lahir : Sumatera Barat, 8 Oktober 1884
Meninggal :  Jakarta, 4 November 1954 (70 Tahun)
Zodiac : Balance
Profesi : Jurnalis, Diplomat
Makam  : Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Warga Negara : Indonesia
Agama : Islam


    Biografi Agus Salim    

Agus Salim terlahir sebagai anak keempat dari pasangan Soetan Mohamad Salim dan Siti Zaenab pada tanggal 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Agam Sumatera Barat. Ayahnya, seorang Jaksa Kepala di Pengadilan Tinggi Riau. Mashudul Haq yang berarti ``Pembela Kebenaran`` adalah nama yang diberikan oleh orang tuanya saat beliau lahir. Menelusuri jejak dalam biografi Agus Salim, kita mendapati kecerdasannya sangat menonjol dibanding teman-temannya. Terlahir dari keluarga yang berada, membuat Agus Salim dapat mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Belanda tanpa hambatan. Pada usia 19 tahun, belai lulus dari HBS (Hogere Burger School) atau sekolah menengah atas saat ini dalam waktu 5 tahun dengan menyandang predikat lulusan terbaik di tiga kota yaitu Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Pada usia mudanya itu, Agus salim mampu menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang,dan Jerman.
Semangat belajar Agus Salim terus Menyala, dan berbekal sebagai lulusan terbaik dia mengajukan beasiswa kepada pemerintah Belanda untuk dapat melanjutkan sekolah Kedokteran di Belanda. Tanpa sebab yang jelas, ternyata permohonannya ditolak yang membuatnya kecewa. Disisi lain, R.A. Kartini yang hidup sejaman dengan Agus Salim, mendapatkan beasiswa dari pemerintah Belanda untuk bisa belajar di negeri Kincir Angin tersebut. Namun,karena beliau telah menikah, yang dalam tradisi adat Jawa, tidak memperbolehkan seorang wanita yang sudah menikah jauh dari suaminya mengurungkan niat belajarnya. Mengetahui ada anak muda yang cerdas dan merupakan lulusan terbaik dari tiga kota sekaligus, maka kartini berkirim surat kepada temannya, Ny. Abendanon yang merupakan istri pejabat di negeri Belanda yang berwenang menentukan beasiswa untuk mengalihkan beasiswa kepada Agus Salim. Pengajuan pengalihan beasiswa R.A. kartini kepada Agus Salim disetujui oleh pemerintah Belanda. Membaca biografi Agus Salim kita dapati, kalau dia orang yang memiliki kemerdekaan diri yang tinggi. Beasiswa dari pemerintah Belanda justru ditolaknya, karena Ia tahu, itu bukan murni atas prestasinya, namun karena atas permintaan seorang bangsawan bernama Kartini. Dia justru merasa tersinggung atas perlakuan yang tidak adil tersebut.
Dalam biografi Agus Salim disebutkan, pada tahun 1906 bersamaan dengan gagalnya dia melanjutkan sekolah, beliau mendapatkan tawaran kerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Beliau menerima pekerjaan tersebut dalam kurun waktu 2 tahun antara tahun 1909 sampai 1911. Disela-sela pekerjaannya, beliau menimba ilmu lebih jauh tentang agama Islam kepada Syech Ahmad Khatib, seorang Imam di Masjidil Haram yang juga pamannya sendiri dan merupakan guru dari KH. Hasyim Asy`ari pendiri NU dan KH. Ahmad dahlan Pendiri Muhammadiyah. Selain belajar agama, beliau juga belajar mengenai ilmu diplomasi dan politik. Perpaduan ketajaman ilmu Agama, ilmu Politik, Kemampuan Bahasa asing dan kecerdasannya yang tinggi membuatnya menjadi pribadi yang disegani. Saat pulang ke tanah air, beliau langsung aktif dalam pergerakan nasional dan juga mendirikan Sekolah HIS (Hollandsche Inlandesche School.
Melanjutkan biografi Agus Salim, perjuangan politiknya diawali saat bergabung dengan Serikat Islam pada tahun 1915 yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis. Beliau sempat menjadi anggota Volksraad ( semacam DPR/MPR) dari perwakilan SI di pemerintah Hindia Belanda menggantikan seniornya HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis. Agus Salim tidak bertahan lama dan mengalami kekecewaan atas kebijakan pemerintah Hindia Belanda sebagaimana pendahulunya dan berkesimpulan berjuang dari dalam tidak efektif hingga memutuskan focus berjuang melalui SI. Pada tahun 1923 SI pecah secara ideolgi menjadi SI kiri atau SI merah yang berideologikan ke ``kiri`` yang dipimpin oleh Semaun dan Darsono yang menjadi cikal bakal PKI dengan SI kanan atau SI Putih yang berhaluan ideology kanan, dimana Agus Salim tergabung didalamnya dengan Tjokroaminoto. Agus Salim sering mendapat tuduhan sebagai mata-mata Belanda, namun ditepisnya dengan keberaniannya untuk mengkritik pemerintah Belanda melalui pidato-pidatonya. Agus Salim menjadi pimpinan puncak SI menggantikan HOS Tjokroaminoto yang wafat pada tahun 1934. Selain di SI, beliau mendirikan juga organisasi Jong Islamieten Bond dan melakukan perubahan pola pikir dari yang kaku ke Islam moderat dengan meniadakan hijab pemisah antara tempat duduk laki-laki dan perempuan pada kongres ke 2 Jong Islamieten Bond di Yogyakarta tahun 1927.
Membaca biografi Agus Salim lebih dalam kita menemukan keterlibatan beliau sebagai anggota PPKI yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Setelah kemerdekaan Indonesia, beliau mendapat mandate sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung. Pada Kabinet Syahrir I dan II, beliau di tunjuk menjadi Menteri Muda Luar Negeri. Begitu pula pada cabinet Hatta. Berlanjut setelah kedaulatan Indonesia diakui oleh internasional, beliau ditunjuk menjadi penasihat Menteri Luar Negeri. ``The Grand Old Man`` adalah julukan terhadap Agus Salim, karena kepiawainnya dalam berdiplomasi yang tidak tertandingi pada jamannya. Salah satu contoh, beliau sangat cerdik untuk mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Indonesia dari Negara Jerman. Negara Jerman yang merasa keturunan bangsa Arya berlaku sombong dan menganggap rendah Negara atau orang yang tidak bisa berbahasa Jerman. Maka, saat kunjungannya sebagai Menteri Luar Negeri, dia menyusun naskah pidatonya dalam Bahasa Jerman yang sangat fasih dan memukau petinggi Jerman hingga akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia.
Menelaah biografi Agus Salim, kita akan menemukannya sebagai sosok yang merdeka dalam berpikir dan bertindak. Beliau tidak mau terkungkung dalam batasan-batasan, termasuk mendobrak tradisi Minang yang menurutnya kolot. Walaupun seorang tokoh yang disegani dan sangat cerdas, penampilannya sangat sederhana,sering hanya menggunakan sarung dan peci. Beliau tidak tidak memiliki brumah tetap dan selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Di tiap kota, beliau hanya menyewa rumah yang kecil dan sederhana. Dalam hal pendidikan anak, beliau mengajarnya sendiri atau home schooling kalau dalam istilah sekarang. Hanya anaknya yang paling kecil yang disekolahkan secara formal. Beliau beranggapan, semua keahliannya tidak diperoleh disekolah formal, namun lebih karena belajar mandiri atau otodidak dengan ``learning by doing``. Beliau melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda dalam hal pendidikan dengan berujar`` saya telah melalui jalan berlumpur akibat pendidikan kolonial``. Haji Agus Salim begitu akrab panggilannya di lintasan sejarah, wafat dalam usia 70 tahun tepatnya pada 4 November 1954 dan dimakamkan di TMP Kalibata. Atas segala jasa dan perjuangannya, beliau mendapat anugerah sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang tertuang dalam Keppres nomor 657 tertanggal 27 Desember 1961.

    Pendidikan Agus Salim    

  • Europeesche Lagere School (ELS)
  • Hoogere Burgerschool (HBS)

    Penghargaan Agus Salim    

  • Pahlawan Nasional Indonesia SK Keppres nomor 657 tahun 1961

Biografi Ahmad Dahlan "Sang Pembaharu Dalam Kata Dan Karya"


Biografi Ahmad Dahlan "Sang Pembaharu Dalam Kata Dan Karya" Pahlawan Nasional

    Profil KH. Ahmad Dahlan    

Nama : Kyai Haji Ahmad Dahlan
Lahir : 1 Agustus 1868, Daerah Istimewa Yogyakarta
Meninggal : 23 Feb 1923, Daerah Istimewa Yogyakarta
Kebangsaan : Indonesia
Makam : Kampung Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta
Anak : Djohanah, Dandanah, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siradj Dahlan, Siti Zaharah, Siti Busyro
Nama Ayah : K.H. Abu Bakar
Nama Ibu : Siti Aminah

    Biografi KH. Ahmad Dahlan    

Ahmad Dahlan dilahirkan pada tanggal 1 Agustus 1868 di Yogyakarta dengan nama Muhammad Darwisy. Beliau merupakan anak ke empat dari tujuh bersaudara dari K.H. Abu bakar, seorang Khatib dan ulama di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta. Secara garis nasab, beliau termasuk keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah satu tokoh penyebaran agama Islam di Jawa dan termasuk pemuka dari Walisongo. Pada Biografi Ahmad Dahlan disebutkan, pada usia 15 tahun beliau menunaikan Ibadah Haji dan bermukim di kota suci Makkah selama 5 tahun untuk memperdalam agama Islam. Interaksi ahmad Dahlan dengan pemikiran para pembaharu Islam, seperti Muhammad Abduh, jamaludin Al-Afghani, Ibnu Taimiyah dan Rasyid Ridha begitu inten dalam periode ini hingga sangat mempengaruhi pola pikirnya. Pada tahun 1888 beliau pulang kampong dan berganti nama menjadi Ahmad Dahlan.
Pada tahun 1903, beliau berangkat lagi ke Makkah dan menetap disana selama dua tahun untuk lebih memperdalam agama Islam. Pada periode ini,Ahmad Dahlan berguru pada orang yang sama dengan pendiri NU, K. H. Hasyim Asy`ari yaitu Syeh Ahmad Kahtib. Membaca Biografi Ahmad Dahlan, kita akan menemukan kalau beliau orang yang haus ilmu, sehingga beliau belajar berbagai bidang ilmu dari beberapa guru dengan latar belakang keilmuan yang berbeda. Beliau belajar fiqih pada KH. Muhammad Shaleh, mendalami ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa) pada KH. Muhsin. Pendalaman ilmu hadits pada KH. Ayyat dan Kiai Mahfud, sedangkan ilmu Al-Qur`an dipelajari dari Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock. Disiplin ilmu lainnya yang juga beliau pelajari adalah ilmu falak (astronomi) dari KH. Raden Dahlan. Ilmu aplikatif lainnya yaitu ilmu pengobatan dan racun binatang yang dipelajari dari Syekh Hasan.
Sepulang dari Mekkah beliau menikah dengan Siti walidah anak Kyai Penghulu Haji Fadli. Dalam biografi Ahmad dahlan disebutkan, beliau pernah menikah lima kali selama hidupnya. Selain sebagai tokoh agama, beliau juga seorang pedagang batik yang mumpuni. Maka tak heran, kalau gagasan dan pemikirannya cepat menyebar ke berbagai daerah, karena memang aktivitasnya yang terus berputar dari wilayah satu ke wilayah lainnya. Disela-sela berdagang, beliau selalu mendakwahkan ajaran agama Islam. Ahmad Dahlan merupakan seorang aktivis kemasyarakatan yang memiliki pemikiran cemerlang dan wawasan luas. Dengan mudah, beliau diterima diorganisasi Jam`iyatul Khair, Syarikat Islam dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 1909 Ahmad Dahlan bergabung dengan Boedi Oetomo, sebuah organisasi tempat ditempanya para tokoh-tokoh nasionalis. Selain mengajarkan tentang agama pada anggota Boedi Oetomo, beliau juga belajar tentang organisasi, manajemen dan berbagai hal mengenai pergerakan. Dari sinilah beliau kemudian menyerap berbagai pengetahuan yang dipadukan dengan nilai-nilai keagamaan. Maka pada 18 November 1912 (8 Dzulhijah 1330) beliau mendirikan organisasi kemasyarakatan dan pendidikan yang dilandasi semangat keagamaan dan pembaharuan bernama Muhammadiyah.
Selintas membaca biografi Ahmad Dahlan, kita akan mendapati, bahwa beliau adalah orang yang puritan dalam arti memegang teguh kemurnian agama. Bahkan melalui Muhammadiyah beliau selalu menyampaikan, apapun amaliah agam yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan sesuatu yang terlarang. Disisi lain, beliau juga seorang moderat, yang dengan lentur bisa bergaul dengan berbagai pemikiran dan kalangan termasuk tokoh-tokoh lintas agama dan nasionalis. Pada bagian lain, kita akan menemukan, betapa beliau seorang reformis dan pembaharu sejati dalam bidang keagamaan dan social kemasyarakatan. Khusus dalam system pendidikan, beliau mereformasi pola pesantren yang hanya mengajarkan materi keagamaan dan menitikberatkan pada hafalan dengan memasukkan ilmu umum. Begitu pula sebaliknya, beliau memasukkan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum. Beliau mempelopori system klasikal pada lembaga pendidikan yang belum lazim saat itu. Perkara ini bukanlah hal yang sepele, karena berbagai sepak terjangnya akhir memunculkan gejolak, terutama dikalangan umat Islam, sehingga beliau mendapat hujatan bahkan dicap sebagai Kiai Kafir,antek asing dan sering mendapatkan terror bahkan ancaman pembunuhan. Tetapi kegigihan dan konsistensi Beliau tidak bergeser sedikitpun atas berbagai cobaan yang menimpa.
Mendalami biografi Ahmad Dahlan, kita dapat mengambil pentingnya gagasan visioner yang dilandasi nilai-nilai kebenaran, pemikiran yang inklusif sekaligus eksklusif. Beliau selalu menekankan pentingnya amaliah atau praktek keagamaan secara nyata dalam keseharian. Agama bukan hanya berhenti pada pemahaman kognitif belaka, namun harus aplikatif dan mampu menjawab persoalan kemasyarakatan. Beliau juga menghilangkan budaya kultus individu dan ketergantungan pada individu. Terbukti Muhammadiyah, organisasi yang didirikannya memiliki beragam amal ilmiah dan terorganisir secara rapi hingga saat ini dan terus memberikan kontribusi pada masyarakat. Beliau wafat pada usia 54 tahun, tepatnya pada 23 Februari 1923 dan dimakamkan di Karang Kuncen, Yogyakarta. Atas jasa dan pengabdiannya, beliau dianugerahi gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang tertuang dalam SK Presiden No.657, tertanggal 27 Desember 1961.

    Penghargaan KH. Ahmad Dahlan    

  • Pahlawan Nasional Indonesia Keppres No. 657 tahun 1961

    Karir KH. Ahmad Dahlan    

  • Pendiri Muhammadiyah 

Biografi Pangeran Antasari ”Pahlawan Dari Kota Banjar”


Pangeran Antasari Tokoh Nasional

    Profil Pangeran Antasari    

Nama : Pangeran Antasari
Lahir : 1797, Banjar, Kalimantan Selatan
Meninggal : 11 Oktober 1862 Bayan Begok, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, (umur 53)
Makam : Taman Makam Perang Banjar, Banjarmasin
Ayah : Pangeran Masud bin Pangeran Amir
Ibu : Gusti Khadijah binti Sultan Sulaiman


    Biografi Pangeran Antasari    

Pangeran antasari merupakan salah satu pahlawan nasional yang lahir pada tahun 1797 di daerah kabupaten banjar, Kalimantan selatan. Beliau merupakan salah satu pahlawan nasional yang menghabiskan hidupnya untuk mengusir Belanda dari Indonesia terutama di daerah banjar. Beliau sangat khawatir melihat kekrisuhan yang terjadi di kerajaan banjar yang semakin dikuasai oleh Belanda. Beliau diutus untuk melihat gerakan rakyat dan menghadapi berbagai hal untuk mulai mengusir Belanda dari tanah banjar. Berikut beberapa kisah tentang biografi pangeran antasari yang bisa kita teladani. 
Pada tanggal 14 maret tahun 1862, pangeran antasari diberi sebuah gelar oleh pemimpin kesultanan banjar pada waktu itu dengan gelar panembahan amirudin khalifatul mukminin. Nama awal beliau bukanlah pangeran antasari tetapi gusti inu kartapati. Orang tua dari pangeran antasari adalah pangeran mas'ud dan ibunya adalah Gusti hadijah. Pangeran antasari memiliki saudara perempuan yang bernama ratu antasari. Adiknya menikah dengan seorang sultan yang bernama sultan muda abdurahman. Tetapi suami adiknya meninggal terlebih dahulu sebelum mereka mempunyai keturunan. Dalam biografi pangeran antasari, beliau tidak hanya dianggap sebagai kepala suku di banjar. Tetapi diberbagai tempat lainnya di Kalimantan.
Pada saat itu kepemimpinan banjar di pimpin oleh sultan hidayatullah, tetapi kemudian sultan hidayatullah diasingkan di cianjur oleh Belanda. Perjuangan selanjutnya diteruskan oleh pangeran antasari. Pada saat itulah gelar panembahan amirudin khalifatul dicanangkan kepada pangeran antasari yang berarti seorang pemimpin pemerintah, seorang panglima perang dan juga pemuka agama. Dengan gelar tersebut, pangeran antasari menjadi terus berjuang untuk mengusir Belanda dari banjar. Jika membaca buku biografi pangeran antasari, anda dapat mengetahui cerita ini lebih detail.
Pada tanggal 25 april tahun 1859 pangeran antasari dan pasukannya menyerang tambang batu bara milik pemerintahan Belanda. Setelah kejadian tersebut semakin banyak perpecahan peperangan yang terjadi di kota banjar untuk melawan Belanda. Banyak sekali pos-pos Belanda yang diserang oleh pangeran antasari dan pasukannya seperti di daerah martapura, tanah laut, tabalong dan masih banyak lainnya. ada banyak sekali perang yang diceritakan dalam biografi pengeran antasari. Hal ini semakin membuat Belanda memperbanyak pasukannya dan akhirnya pasukan pangeran antasari mengubah benteng pertahanannya didaerah muara teweh.
Sudah berkali-kali pemerintahan Belanda menyuruh pangeran antasari untuk menyerah. Tetapi beliau tidak pernah mau dan tetap ingin melawan Belanda. Pada tanggal 11 oktober tahun 1862 pangeran antasari meninggal dunia di tanah kampung bayan, bengkok karena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya. Setelah terkubur hampir 91 tahun didaerah hulu sungai, akhirnya makam pangeran antasari dipindahkan di daerah pemakaman pahlawan perang banjar, Banjarmasin. Itulah beberapa cerita tentang biografi pangeran antasari yang tidak pernah menyerah untuk mengusir Belanda.

    Penghargaan Pangeran Antasari    

  • Gelar Pahlawan Nasional SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968
  • Sumber : biografipahlawan.com

Biografi Adam Malik ”Pelopor Terbentuknya Negara Asean”


    Profil Adam Malik    

Nama : Adam Malik
Lahir : 22 Juli 1917, Kota Pematangsiantar, Indonesia
Meninggal : Bandung, Jawa Barat, 5 September 1984
Makam : Taman Makam Pahlawan Kalibata
Zodiac : Cancer
Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam



    Biografi Adam Malik    

Untuk mencapai kemerdekaan Indonesia ada banyak sekali jasa-jasa para pahlawan yang menjadikan Indonesia merdeka. Salah satunya adalah adam malik. Adam malik merupakan seorang pejuang kemerdekaan bersama  Bung Karno,Bung Hatta  dan lain sebagainya yang merumuskan teks proklamasi. Adam malik lahir pada tanggal 22 juli tahun 1971 di daerah pematang siantar, sumatera utara. Beliau dikenal sebagai si kancil karena kelincahannya dalam berbagai hal. Orang tua beliau adalah haji abdul malik batubara dan ibunya salamah lubis. Berikut cerita tentang biografi adam malik lebih lanjutnya. 
Beliau pernah ditahan oleh polisi dinas di sipirok pada tahun 1934. Beliau dipenjara selama 2 bulan kurungan penjara. Hal itu dikarenakan larangan mendirikan perkumpulan, pada saat itu membentuk sebuah perkumpulan sangatlah di larang. Pada saat beliau berumur 17 tahun, adam malik sudah menjadi ketua partindo di pematang siantar. Beliau berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu beliau akhirnya hijrah ke Jakarta untuk berjuang dengan pejuang lainnya demi kemerdekaan Indonesia. Dalam beberapa buku biografi adam malik, diceritakan tentang perjalanan hidup adam malik untuk membantu kemerdekaan Indonesia.
Pada tahun 1937 beliau bersama sipahutar, abdul hakim, soemanang, armin pane dan pandu kartawiguna mendirikan kantor berita antara. Dengan didirikannya kantor berita antara mereka memberikan banyak sekali tulisan tentang perlawanan terhadap pemerintahan saat itu. Banyak sekali artikel yang sudah dimuat antara lain pada surat kabar majalah perindo dan juga pelita andalas. Pada saat pemerintahan colonial Belanda, adam malik banyak melakukan gerilya bersama gerakan pemuda lainnya. sebelum dikumandangkannya kemerdekaan republik Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945. Jika melihat biografi adam malik, kita akan tahun gerakan apa saja yang beliau lakukan.
Beliau juga menggerakkan seluruh rakyat Indonesia untuk berkumpul di lapangan Ikada, Jakarta. Beliau juga terpilih sebagai wakil dari kelompok muda untuk menjadi ketua komite III nasional Indonesia pusat dan bertugas untuk menyusun pemerintahan. Selain itu beliau juga pernah mendirikan partai murba dan juga partai rakyat. Adam malik juga pernah menjabat sebagai duta besar luar biasa dan bertempat tinggal di polandia dan uni soviet. Pada masa partai komunis Indonesia, adam malik dan roeslan abdulgani dianggap sebagai musuh PKI. Ini juga diceritakan diberbagai versi biografi adam malik.
Pada masa order baru, adam malik berperan sebagai fasilitator dalam perundingan dengan berbagai Negara. Beliau juga mempelopori terbentuknya ASEAN bersama dengan menteri luar negeri seluruh Negara di daerah asia. Asean terbentuk pada tahun 1967. Adam malik juga pernah menjadi wakil presiden republik Indonesia ketiga mengantikan sri sultan hamengkubuono ke IX. Bapak Haji Adam Malik meninggal di kota bandung pada tanggal 5 september tahun 1984. Karena penyakit kanker liver.

    Pendidikan Adam Malik    

  • Hollandsch-Inlandsche School  Pematangsiantar
  • Sekolah Agama Parabek di Bukittinggi

    Karir Adam Malik    

  • Wakil Presiden Republik Indonesia
  • Ketua DPR/MPR
  • Menteri Luar Negeri Indonesia
  • Duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Uni Soviet dan Polandia
  • Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin

    Penghargaan Adam Malik    

  • Bintang Mahaputera kl. IV pada tahun 1971
  • Bintang Adhi Perdana kl.II pada tahun 1973
  • Pahlawan Nasional pada tahun 1998
  • Sumber : biografipahlawan.com